Analisis SWOT (Evaluasi Diri)

by agusnuramin

Setiap orang memiliki potensi dan kemampuan yang luar biasa. Namun dibutuhkan jangka waktu lama untuk mencapai semua hal yang mampu dikerjakan. Sayangnya, manusia hanya punya satu kesempatan saja dalam hidup ini karena waktu terus berjalan dan tak bisa kembali.

Menurut saya, otak merupakan potensi dan kemampuan yang luar biasa dimiliki oleh setiap orang. Jelas, kekuatan yang dianugerahkan Tuhan kepada saya berupa otak ini dapat berfungsi mengolah data dari berbagai masukkan kegiatan atau pengalaman sebelumnya, otak selalu memproses data yang ada didalam kemudian menginterpretasikan kembali data masukan tersebut menjadi sebuah kegiatan atau perbuatan yang bisa mendatangkan timbal-balik yang bagus berupa prestasi. Kehebatan dari kekuatan otak dapat mengontrol diri dari kelemahan yang saya miliki sehingga menjadi sebuah otomatisasi tertanam dalam pola pikir khusus menuju perubahan. kata kunci dari kesuksesan adalah perubahan, kenapa saya katakan demikian? Karena mulai dari bahan baku kelemahan/ketakutan yang diproduksi bayangan masa lalu dirubah oleh otak menjadi sebuah produk aksi yang luar biasa sebagai alat untuk mencapai prestasi yang kita cita-citakan dari mengoptimalkan setiap peluang yang ada.

HandrGE, CEO General Elektrik Indonesia (2012) menulis dalam twitternya bahwa “Kita harus dicekoki dari dulu, bahwa we have to learn from anybody, anywhere, anytime. Ini adalah sikap mental,”

Penyesalan terjadi karena salah langkah atau keliru dalam bertindak. Manusia yang jatuh dalam kesalahan yang sama karena gagal belajar dari sebuah pengalaman. Adapula yang terjebak dalam trauma dan sulit bangkit kembali untuk mengembangkan diri. Ini penting kegagalan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses learning. Hampir tidak ada kesuksesan tanpa mengalami kepahitan sebuah kegagalan, pasca kegagalan biasanya secara otomatis pemicu semangat untuk bangun dan maju meraih sebuah kesuksesan. Tapi, tetap memerlukan yang namanya Evaluasi Diri. Nah! Apa itu Evaluasi diri? Mari kita perhatikan dibawah ini.

Evaluasi berarti menguji kembali semua yang telah dilakukan, sekaligus membuat antisipasi dan sikap mawas diri terhadap hal yang mungkin terjadi. Sikap evaluasi diri berarti menyadari bahwa mungkin Anda tidak mampu mengontrol situasi di sekitar, namun Anda bisa memberdayakan diri sendiri se-optimal mungkin.

Mengapa kita perlu mengevaluasi diri ?

Untuk mengetahui posisi saat ini. Ada sebuah kisah, seekor ulat kecil sedang memanjat pohon ceri yang tinggi. Pohon yang sangat rimbun membuat ulat kecil kesulitan mencari buahnya. Burung-burung di udara mengejek ulat kecil itu yang susah payah memanjat pohon ceri yang belum berbuah. Dengan tenang si ulat menjawab, ”Saat aku tiba di puncaknya, maka aku akan menemukan buah ceri yang matang dan ranum.” Evaluasi diri adalah cara untuk mengetahui dengan tepat kemampuan dan kondisi tantangan yang harus dihadapi. Sehingga target dan sasaran dapat diraih dengan sukses.

Kemudian, Agar menemukan momentum yang tepat untuk memacu diri. Evaluasi biasanya dilakukan dalam periode waktu tertentu. Beberapa perusahaan mengadakan evaluasi setiap tahun. Namun untuk mengantisipasi perubahan yang lebih cepat, saat ini evaluasi lebih sering dilakukan setiap tiga atau empat bulan. Sama seperti diri Anda, evaluasi pribadi secara rutin membuat Anda tanggap dalam bertindak dan mengambil keputusan yang tepat di momen yang tepat.

Bukan itu saja, Untuk memetik hikmah dan mengantisipasi keadaan. Kesalahan dan kegagalan adalah milik semua orang. Anda mungkin merasa kecewa dan menyesal mengapa semua ini dapat terjadi. Namun dengan evaluasi diri, Anda dapat memetik pelajaran yang sangat berharga yang tidak dapat dibeli dan tidak tergantikan. Semua pengalaman Anda, sukses maupun gagal, merupakan aset yang tidak ternilai harganya.

Cara mengembangkan sikap evaluasi diri, kita perlu Mengenal karakter pribadi, Mengenal karakter pribadi berarti. Ada sifat-sifat yang harus dipahami, di balik semua keadaan fisik dan kebiasaan yang nampak dari luar. Kenali potensi, bakat dan minat serta kekuatan dan kelemahan pribadi Anda. Juga respon dan sikap Anda ketika menghadapi tekanan dan masalah. Kenali juga gaya komunikasi, sikap terhadap lingkungan sosial, kinerja, kepemimpinan, pola pikir, emosi, daya tahan mental dan lain-lain. Semakin Anda mengenal karakter pribadi, semakin mudah Anda mengevaluasi diri sendiri.

Membangun sikap obyektif, Michael yang hidup di lingkungan kumuh di sebuah kota, tumbuh menjadi seorang penjahat. Ia menganggap apa yang dilakukannya adalah hal yang lazim. Pergaulan dan lingkungan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik. Banyak mitos dan pandangan yang keliru atau pengaruh negatif lingkungan membuat Anda menjadi subyektif bahkan kurang rasional. Seperti Michael, namun akhirnya ia mengalami pencerahan dan pemulihan. Nilai-nilai yang benar membuat Anda mampu untuk bertindak obyektif yang dapat menjadi pegangan dan standar yang benar untuk bisa mengevaluasi diri dengan baik.

Melatih kemampuan untuk menimbang dan memahami.

Dalam doanya kepada Tuhan, Raja Salomo tidak meminta kekayaan maupun kejayaan, melainkan hati yang dapat menimbang dan memahami. Ada pepatah mengatakan, kemudaan adalah kebodohan. Kurang pengalaman mungkin adalah kendala terbesar dalam meraih sukses. Tapi dengan mengevaluasi diri, Anda bisa mengantisipasi situasi yang akan dihadapi dan dapat menggandakan potensi dan kemampuan.

About these ads