Idul Fitri

by agusnuramin

Hari raya Idul Fitri adalah hari raya yang sebenarnya merupakan ungkapan syukur atas keberhasilan orang yang beriman untuk menahan hawa nafsu, termasuk lapar dan haus di siang hari selama satu bulan penuh. Keberhasilan ini diungkapkan dengan puji-pujian “takbir” mulai tenggelamnya matahari dihari terakhir hingga tiga hari berikutnya. Ungkapan syukur itu dengan melakukan shalat idul fitri di masjid-masjid dan di lapangan-lapangan, sembari bersalaman saling maaf-memaafkan satu sama lain. Bagi orang islam indonesia, perayaan hari raya ini menjadi sangat heboh dan meriah, karena dihubungkan dengan tradisi-tradisi yang menyertainya, seperti istilah “lebaran”.

Disana lalu ada tradisi membuat ketupat dan opor ayam, membuat dan menyediakan bermacam-macam kue, dodol yang kadang tampak seperti dipaksakan. Alesannya banyak tamu yang datang bersilaturahmi, terutama bagi keluarga tertentu yang urutannya lebih tua. Yang heboh lagi adanya cuti atau libur bersama yang kadang tidak cukup dalam satu minggu. Ini dimaksudkan sebagai kesempatan untuk mudik kekampung halaman masing-masing. Terlepas setuju atau tidak, kegiatan mudik di hari lebaran, yang melibatkan jutaan orang, sudah menjadi budaya yang tak terbantahkan sehubungan dengan hari raya Idul Fitri ini. Mudik di hari lebaran juga menghabiskan energi dan biaya yang sangat besar, yang konon diyakini mampu menggerakkan roda perekonomian nasional. Orang-orang dari kota besar datang ke kota kecil atau pedalaman dengan membelanjakkan uang yang tidak sedikit. Pengeluaran tambahan juga berkaitan dengan biaya transportasi, baik darat, laut maupun udara.

“Alangkah baiknya menjaga diri selalu bersih dan cerah, karena dirimu adalah jendela yang harus kamu gunakan untuk memandang dunia”. (HPH)

sumber: Noor Rachmat, Antonius Atosokhi Gea, Antonina Panca Yuni Wulandari. 2004. Relasi dengan Tuhan. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo.