Perang Lodong Raksasa di Dua Kecamatan

by agusnuramin

perang meriam lodong di 2 kecamatan

Malam takbiran memang membawa kebahagian kepada semua umat muslim diseluruh dunia. Berbagai ekspresi kegembiraan ditunjukan umat muslim dengan berbagai cara. Disamping melaksanakan takbiran semalam suntuk di mesjid dan suro, masyarakat pun menyambut lebaran dengan membakar petasan dan kembang api.

Namun di kec. Tanjungjaya dan Sukaraja, masyarakatnya merayakan “Hari Kemenangan” dengan cara yang berbeda. Masyarakat di dua kecamatan yang bertetanggaan itu ternyata memiliki cara tersendiri untuk menyambut lebaran, yaitu dengan cara perang lodong raksasa.

Tidak tanggung-tanggung, lodong yang dibuat ini berukuran sangat besar. Panjangnya sekitar 9 meter dan diameter 1 meter. Dengan alat yang cukup besar ini, suara lodong yang dihasilkanpun cukup menggelegar keras hingga terdengar pada radius 6 km lebih. Bahkan yang lebih menakjubkan, jumlah lodong-lodong ini mencapai 30 buah untuk satu kecamatan. Dengan demikian, kesannya seperti parade lodong. Kontan saja, hal ini menyedot perhatian masyarakat hingga mereka berduyun-duyun mendatangi tempat kontes meriam lodong.

Salah satu tempat yang dijadikan kawasan parade lodong yakni, Kp. Cisongom, Desa Sukasirna, Kec. Tanjungjaya, Kab. Tasikmalaya. Di tempat ini terdapat sedikitnya 20 lodong raksasa berbagai ukuran. Masyarakat membuatnya dari sebatang pohon aren (kawung-red) dan pohon pinang (jambe-red), yang dibolongi isinya.

Mereka secara bergotong royong membuat meriam lodong tersebut dengan kompak, mulai dari menebang pohon, hingga iuran untuk membeli karbit. Tak tanggung-tanggung, karbit yang disediakan ini jumlahnya mencapai 2 kuintal lebih. Semua itu hasil iuran keluarga yang kebanyakan baru pulang mudik kekampung halaman.

Menurut salah seorang tokoh pemuda sekaligus penggagas dibuatnya meriam lodong, Teten (40), tradisi menyalakan meriam lodong saat malam lebaran merupakan tradisi turun temurun beberapa tahun terakhir.

Mereka kadang membuatnya dari batang bambu. Jika ada dana, maka mereka membuatnya dari pohon aren. Di tahun ini, kata Teten, merupakan festival meriam lodong terbanyak yang ia ketahui, karena jumlahnya mencapai 20 lebih.

Dia menerangkan, meriam lodong ini dibuat khusus dari pohon aren besar yang dibelah dan diikat dengan simpul rotan. “Butuh beberapa hari untuk membuat, sebelum akhirnya dipakai saat malam Takbiran.” katanya.

Setiap lodong yang telah selesai, lalu dibariskan berderet dipinggir jalan, tepat disebuah benteng jurang yang menghadap ke sungai ciwulan. Di seberang sungai tersebut merupaka lawan main lodong mereka yang merupakan warga kampung tetangga.

Begitu pula yang dilakukan masyarakat di Kp. Koleberes Tonjong, Desa Janggala, Kec. Sukaraja, Kab Tasikmalaya. sedikitnya sekitar 30-an meriam lodong yang berjejer disekitar kawasan persawahankampung tersebut.

Menurut Wawan (35), Tradisi menyalakan bedil lodong ini telah berlangsung tahunan. Setiap lodong yang dibuat sebagian bahkan masih lodong tahun kemarin yang sempat direndam warga pada bebrapa kolam.

Bahkan diutarakan Wawan, sebagian besar warga banyak yang bilang jika tidak mendengar suara lodong maka terkesan tidak lebaran. Jadi meskipun pihak kepolisian sekitar memberi himbauan agar ritual semacam ini tidak digelar, namun warga tetap menggelarnya.

Sumber : Kabar Priangan Tasikmalaya, reporter Aris MF/”KP” edisi Selasa, 14 September 2010