Task 1

by agusnuramin

Alasan mengapa Belajar Bisnis (Reason why study business)

Suatu bisnis diciptakan untuk menyediakan produk dan jasa kepada pelanggan. Jika bisnis tersebut dapat melakukan operasinya secara efektif, maka pemilik bisnis itu akan memperoleh tingkat pengembalian yang wajar atas investasi mereka di perusahaan atau kata lainnya memperoleh keuntungan. Selain itu, bisnis juga menciptakan lapangan pekerjaan.

Dengan demikian, bisnis dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat dalam berbagai cara. Namun demikian, dapat ditanyakan lagi apakah produktivitas boleh dipertahankan dengan segala cara? Mengejar keuntungan merupakan hal yang wajar, asalkan tidak tercapai dengan merugikan pihak lain. Jadi, ada batasnya juga dalam mewujudkan tujuan perusahaan. Di samping aspek ekonomi dari bisnis, di sini tampak aspek lain: aspek moral. Selalu ada kendala etis bagi perilaku kita, termasuk juga perilaku ekonomis. Aspek moral berkaitan erat dengan hukum, sehingga bisnis harus berbadan hukum yang legalitasnya diakui oleh badan hukum dan masyarakat. Langkah pertama dalam memahami bagaimana cara suatu bisnis beroperasi adalah dengan mengetahui fungsinya yang paling penting dan lingkungan dimana bisnis tersebut beroperasi.

Jika kita memperoleh pemahaman yang baik akan bisnis, kita mungkin menjadi lebih mampu menciptakan dan menjalankan suatu bisnis yang berhasil, dan kita akan memperoleh laba yang lebih tinggi sebagai imbalannya. Tetapi, bahkan jika kita tidak pernah berencana untuk menjalankan bisnis kita sendiri, kita dapat memperoleh manfaat dari memahami bagaimana suatu bisnis beroperasi. Pertama, jika kita memiliki keahlian bisnis yang kuat, kita dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Kedua, kita akan menemukan bahwa pekerjaan kita lebih menyenangkan jika kita memahami bagaimana tugas-tugas pekerjaan kita berkaitan dengan perusahaan dan industrinya. ketiga, kita dapat berkinerja dengan lebih baik, sehingga berada dalam jalur karier yang lebih memuaskan. Keempat, jika kita nantinya akan berinvestasi pada suatu bisnis, kita akan dapat mengidentifikasikan dengan lebih baik jenis bisnis yang kemungkinan besar memiliki prospek yang bagus. Sebagai hasilnya kita menginvestasikan uang kita secara bijaksana dan menikmati tingkat pengembalian yang lebih tinggi atas investasi kita. Dengan demikian, kita masih dapat memperoleh manfaat dari pemahaman akan bisnis bahkan jika kita tidak memiliki bisnis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim bisnis di Indonesia (Factors that affect the business climate in Indonesian)

Bisnis adalah segala kegiatan produsen untuk memproduksi dan memasarkan barang/jasa kepada konsumen untuk memperoleh laba (profit) (Straub & Attner, 1994). Sedangkan iklim bisnis –dimodifikasi dari definisi “iklim investasi” Stern (2002)– adalah semua kebijakan, kelembagaan, dan lingkungan, baik yang sedang berlangsung maupun yang diharapkan terjadi di masa depan, yang dapat mempengaruhi kegiatan bisnis (Kuncoro, 2006).

Dari berbagai studi dan survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor utama yang memengaruhi iklim bisnis secara umum dapat dikelompokkan menjadi: (i) stabilitas makroekonomi, (ii) kualitas insfrastruktur, (iii) kejelasan dan kepastian kebijakan ekonomi, (iv) transparansi dan efisiensi birokrasi, (v) tingkat korupsi, (vi) tingkat kerumitan prosedur dan regulasi yang mengatur proses kegiatan bisnis, (vii) upah buruh dan masalah perubahan lainnya, dan (viii) keamanan.

Khusus untuk Indonesia faktor-faktor yang mempengaruhi iklim bisnis Indonesia, mencakup: (i) instabilitas makroekonomi, (ii) kualitas infrastruktur terutama: transportasi, listrik, dan telekomunikasi, (iii) korupsi baik yang bersumber dari pemerintah pusat maupun pemda, (iv) ketidakpastian kebijakan ekonomi, (v) system hukum dan penyelesaian konflik, (vi) tarif dan administrasi pajak, (vii) ketrampilan dan pendidikan tenaga kerja, (viii) peraturan ketenagakerjaan baik dari pemerintah pusat maupun pemda, (ix) biaya dan akses pembiayaan (cost of finance and financial access), (x) surat ijin baik dari pemerintah pusat maupun pemda, (xi) peraturan perdagangan dan bea-cukai baik nasional maupun regional, (xii) tingkat kriminalitas, pencurian dan kerusuhan, (xiii) praktek-praktek monopoli, (xiv) urusan pertanahan, dan (xv) perizinan usaha.

Sumber :

Madura, Jeff. Pengantar Bisnis/Jeff Madura Edisi Keempat-Jakarta:Salemba Empat. 2007

K. Bertens. Pengantar Etika Bisnis, Seri Filsafat Atmajaya:21-Yogyakarta:Kanisius. 2000

http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=331&Itemid=47

Prof. DR. Boediono. Bangkitnya Perekonomian Asia Timur Satu Dekade Setelah Krisis, editor Sjamsul Arifin. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo. 2008

gambar : bsinisukm.com